Ambon, PT- Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Maluku, Muhammad Andy Yusuf, mengungkapkan bahwa perkembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia maupun di Maluku terus menunjukkan tren positif.
Berdasarkan laporan State of Global Islamic Economy Report 2024/2025, Indonesia menempati peringkat ketiga dunia dalam indikator ekonomi syariah global, berada di bawah Malaysia dan Arab Saudi. Capaian tersebut menunjukkan semakin kuatnya posisi Indonesia dalam pengembangan industri ekonomi syariah di tingkat global.
Sementara itu, berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan OJK 2025, tingkat literasi keuangan syariah nasional mencapai 43,42 persen, sedangkan inklusi keuangan syariah sebesar 13,41 persen. Data ini menunjukkan bahwa pemahaman masyarakat terhadap produk dan layanan keuangan syariah terus meningkat, meskipun pemanfaatannya masih perlu didorong agar lebih luas di berbagai sektor masyarakat.
Dari sisi industri, perbankan syariah nasional juga mencatatkan pertumbuhan yang signifikan. Hingga Desember 2025, total aset perbankan syariah nasional tercatat mencapai Rp1.041 triliun, atau tumbuh 20,44 persen secara tahunan (year on year).
Di daerah, perkembangan perbankan syariah di Provinsi Maluku juga menunjukkan tren yang positif. Hingga Desember 2025, total aset perbankan syariah di Maluku mencapai Rp1,02 triliun dengan nilai pembiayaan sebesar Rp710 miliar, atau tumbuh 18,30 persen secara tahunan.
Selain itu, rasio Non Performing Financing (NPF) perbankan syariah di Maluku tercatat 1,14 persen, lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional yang berada di angka 2,19 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa kinerja industri perbankan syariah di Maluku tetap stabil dan sehat.
Dengan capaian tersebut, OJK menilai sektor keuangan syariah di Maluku memiliki potensi besar untuk terus berkembang, terutama dalam mendukung pembiayaan sektor riil serta memperkuat peran Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sebagai penggerak ekonomi daerah. (PT)









