Home / DPRD Kota Ambon / Hukum dan Kriminal / Pendidikan

Rabu, 4 Maret 2026 - 10:44 WIB

Dugaan Pelanggaran Jam Kerja pada Program Makan Bergizi Gratis di Ambon, DPRD Minta Disnaker dan Komisi Panggil Segera Pengelola SPPG

oplus_32

oplus_32

Ambon, PT – Program makan bergizi gratis yang dikelola melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menjadi perhatian serius DPRD Kota Ambon, Rabu (4/3/2026).

Pasalnya, ditemukan dugaan pelanggaran ketentuan jam kerja terhadap sejumlah pekerja di lapangan.

Anggota DPRD  Kota Ambon Fraksi Partai PDIP Sekaligus Ketua DPC PDIP Kota Ambon, Upu Latu Nikijuluw menegaskan, pengawasan terhadap program pemerintah tetap menjadi bagian dari fungsi kontrol legislatif, termasuk memastikan hak-hak pekerja terlindungi sesuai regulasi ketenagakerjaan.

Berdasarkan temuan di lapangan, terdapat pekerja yang bekerja melebihi batas waktu normal, bahkan hingga 12 sampai 16 jam per hari. Beberapa di antaranya disebut mulai bekerja sejak pukul 00.00 WIT hingga siang atau sore hari, tanpa kejelasan pembayaran lembur.

Padahal, ketentuan jam kerja telah diatur dalam: Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, Perubahannya dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023, Serta aturan turunan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2021

Baca Juga  110 HARI TIDAK MASUK KERJA, “FS” RESMI MENERIMA SURAT PEMECATAN DARI INSTITUSI KEJAKSAAN

Dalam aturan tersebut disebutkan: Jam kerja normal adalah 40 jam per minggu. Bisa diterapkan 8 jam per hari untuk 5 hari kerja, atau 7 jam per hari untuk 6 hari kerja. Lembur maksimal 4 jam per hari dengan kewajiban pembayaran upah lembur.

Namun, secara faktual ditemukan pekerja yang bekerja melampaui ketentuan tanpa menerima hak lembur.

Untuk itu, Ia meminta Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) serta Komisi I DPRD Kota Ambon untuk segera memanggil pengelola SPPG yang diduga melanggar aturan tersebut.

Menurutnya, kondisi ini tidak bisa dianggap biasa karena berpotensi melanggar konstitusi dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

“Kasihan pekerja jika harus bekerja 12 sampai 16 jam tanpa lembur. Ini bisa berdampak pada kesehatan fisik dan kualitas kerja mereka,” tegasnya.

Selain menyangkut hak pekerja, jam kerja berlebihan juga dikhawatirkan memengaruhi kualitas pelaksanaan program makan bergizi gratis di Kota Ambon. Jika pekerja kelelahan, maka proses penyiapan makanan bisa tidak maksimal dan berpotensi menurunkan standar mutu.

Baca Juga  LPPD Kota Ambon Siap Hadapi Pesparawi Nasional di Manokwari

Ia menegaskan, setiap program pemerintah harus berjalan sesuai aturan hukum dan tetap mengedepankan perlindungan tenaga kerja.

Masih terdapat beberapa titik SPPG di Kota Ambon yang diduga menerapkan sistem kerja di atas 8 jam tanpa pembagian tugas yang jelas serta tanpa pembayaran lembur.

Karena itu, Ia mendesak: Dinas Tenaga Kerja Kota Ambon melakukan inspeksi lapangan. Komisi I DPRD Kota Ambon melakukan pemanggilan resmi terhadap pengelola SPPG.

Evaluasi menyeluruh terhadap sistem kerja dalam program makan bergizi gratis.

Langkah ini diharapkan dapat memastikan program unggulan pemerintah tetap berjalan sesuai regulasi serta menjamin kesejahteraan dan kesehatan para pekerja. (PT)

Share :

Baca Juga

Hukum dan Kriminal

MELALUI PROGRAM RESTORATIVE JUSTICE, KEJAKSAAN KEMBALI TUNTASKAN KASUS NARKOTIKA MELALUI KEADILAN RESTORATIF

Hukum dan Kriminal

JPU Serahkan Tersangka Tipikor Rumah Khusus di Maluku

Headline

Kasus Pemukulan Perempuan dan Pembakaran Rumah, Telah Dilaporkan ke Polsek Kairatu

Hukum dan Kriminal

Kasi Penkum Kejati Maluku Klarifikasi Pemberitaan Media Terkait Penanganan Korupsi di Maluku

Pendidikan

Gaungkan Identitas Ambon Kota Musik Dunia, Ambon Jukulele Festival 2025 Kembali Digelar

Hukum dan Kriminal

SIDANG KORUPSI MANTAN SEKDA SBT, JAKSA TUNTUT 3 TAHUN DAN UANG PENGGANTI 1,1 MILIAR

DPRD Kota Ambon

Risakotta Angkat Bicara Soal Penyegelan Kantor BPKAD Saat Pelayanan

Hukum dan Kriminal

PERKUAT SINERGI PENEGAKAN HUKUM, KAJATI MALUKU TERIMA KUNJUNGAN SILATURAHMI KAPOLDA MALUKU BESERTA JAJARAN