AMBON, Pusartimur.com – Uskup Amboina, Mgr. Seno Inno Ngutra, menutup kegiatan Pendidikan dan Pelatihan Bakal Calon Kepala Sekolah (Diklat BCKS) se-Yayasan Keuskupan Amboina, Rabu (16/9/2026).
Kegiatan penutupan berlangsung di Gedung Gereja Masterdey, Wisata Rohani Katolik, Desa Air Louw, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon.
Rangkaian penutupan diawali dengan Misa Syukur yang dipimpin langsung oleh Mgr. Seno Inno Ngutra. Setelah misa, Uskup Amboina secara resmi menutup rangkaian Diklat BCKS yang diikuti para peserta dari berbagai jenjang pendidikan di bawah Yayasan Keuskupan Amboina.
Dalam keterangannya usai memimpin Misa Syukur, Mgr. Seno Inno Ngutra menekankan pentingnya pembentukan karakter dan integritas bagi seseorang yang dipersiapkan menjadi pemimpin, khususnya kepala sekolah.
Menurutnya, kondisi kepemimpinan saat ini menghadapi tantangan serius, terutama berkaitan dengan integritas dan moralitas.
“Dunia secara keseluruhan, dan secara khusus Indonesia sekarang ini, kita melihat berbagai karakter para pemimpin yang bisa dibilang sangat bobrok,” ujar Ngutra.
Ia menyebut persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kemampuan pengetahuan, tetapi juga menyangkut integritas, moralitas, serta karakter seorang pemimpin.
Karena itu, ia berharap Diklat BCKS yang diselenggarakan Yayasan Keuskupan Amboina dapat menjadi salah satu upaya mempersiapkan calon pemimpin sekolah yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik dan manajerial, tetapi juga memiliki karakter yang baik.
“Semoga Diklat BCKS ini dapat menjadi jawaban atas kekurangan semua ini, dengan catatan para peserta yang mengikuti pelatihan dan Diklat adalah orang-orang yang betul-betul sudah disiapkan, pertama-tama memiliki karakter yang baik,” katanya.
Mantan dosen Hukum Seminari Tinggi itu menegaskan, karakter seorang pemimpin akan memberikan pengaruh terhadap lingkungan yang dipimpinnya.
Menurutnya, seorang kepala sekolah yang memiliki karakter baik akan memberikan teladan yang dapat ditiru oleh guru maupun peserta didik.
“Seorang pemimpin dengan karakter, dengan sendirinya pasti akan tertular kepada bawahannya dan peserta didiknya,” jelas Ngutra.
Ia mengatakan, Diklat BCKS tidak boleh hanya berorientasi pada peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta. Lebih dari itu, proses pendidikan dan pelatihan harus menjadi ruang untuk membentuk karakter calon kepala sekolah sebagai guru sekaligus pemimpin yang baik dan bijaksana.
“Bukan hanya mengisi otak mereka, para calon pemimpin sekolah, dari sisi pengetahuan dan keterampilan, tetapi yang lebih penting adalah pembentukan karakter sebagai seorang guru dan kepala sekolah yang baik dan bijaksana,” tegasnya.
Ngutra juga berharap seluruh materi yang diperoleh selama mengikuti Diklat tidak berhenti pada diri masing-masing peserta.
Ia meminta para peserta dapat menerapkan sekaligus membagikan pengetahuan dan nilai-nilai yang diperoleh kepada para guru di sekolah masing-masing, serta memberikan dampak positif bagi para peserta didik.
Diketahui, kegiatan Diklat Bakal Calon Kepala Sekolah se-Yayasan Keuskupan Amboina berlangsung selama sepuluh hari, sejak 7 hingga 16 September 2026.
Kegiatan tersebut diikuti sebanyak 26 peserta yang berasal dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari TK, SD, SMP hingga SMA di lingkup Yayasan Keuskupan Amboina. (PT)








