Ambon, PT- Pengembangan sumber daya manusia di Maluku dinilai perlu diarahkan pada pembelajaran yang lebih dekat dengan kebutuhan dunia industri dan dunia kerja. Salah satunya melalui pembelajaran berbasis proyek, program magang, serta sertifikasi kompetensi.
Hal tersebut disampaikan Wakil Rektor IV Universitas Pattimura Ambon, Ruslan Tawari dalam pembahasannya mengenai pentingnya penguatan pendidikan dan keterampilan bagi generasi muda di Maluku.
Menurut Ruslan, pembelajaran berbasis pengalaman melalui proyek dan magang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teori, tetapi juga pengalaman langsung menghadapi dunia kerja.
Selain keterampilan teknis, peserta didik juga perlu dibekali soft skill, seperti kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, beradaptasi, serta berinteraksi dengan pimpinan dan rekan kerja.
“Pembelajaran proyek, magang, sertifikasi dan pengalaman belajar melalui proyek menjadi penting karena berkaitan langsung dengan kebutuhan industri dan pekerjaan,” ujar sebagai salah satu Narasumber di Kantor Gubernur Maluku pada kegiatan Energizing Maluku 2026, Sabtu (12/9/2026).

Ia menilai, sertifikasi kompetensi juga menjadi salah satu instrumen penting untuk memastikan seseorang benar-benar memiliki keahlian yang dibutuhkan dunia kerja.
Menurutnya, ketika seseorang dinyatakan memiliki kompetensi melalui sertifikasi, maka peluang untuk memasuki dunia kerja menjadi lebih terbuka karena kemampuan yang dimiliki dapat dibuktikan secara formal.
Ruslan juga menyoroti potensi sumber daya alam Maluku yang sangat besar, mulai dari sektor perikanan, energi, hingga berbagai potensi lainnya. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya memberikan dampak maksimal karena masih terdapat persoalan keterhubungan antara riset, kebijakan pemerintah dan kebutuhan industri.
“Potensi kita sangat besar, tetapi masalah utamanya bukan pada potensi. Persoalannya adalah bagaimana mengintegrasikan riset dengan kebijakan dan kebutuhan industri,” katanya.
Ia mendorong agar perguruan tinggi, pemerintah dan dunia usaha tidak berjalan sendiri-sendiri. Kolaborasi ketiga pihak dinilai penting untuk menghasilkan inovasi yang dapat diterapkan dan dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.
Menurutnya, hasil penelitian dari perguruan tinggi seharusnya tidak berhenti pada laporan atau publikasi, tetapi perlu diarahkan hingga menghasilkan prototipe dan produk yang dapat dimanfaatkan industri.
“Kalau kita masih berjalan sendiri-sendiri, masih ego sendiri, kita tidak akan menghasilkan sesuatu yang bisa masuk ke pasar. Karena itu harus ada kolaborasi,” ujarnya.
Anak Maluku Harus Punya Kesempatan yang Sama
Ruslan juga menyinggung persoalan akses generasi muda Maluku terhadap pendidikan dan kesempatan kerja. Ia menegaskan bahwa anak-anak Maluku memiliki kemampuan dan potensi yang tidak kalah dengan daerah lain.
Karena itu, kesempatan untuk memperoleh pendidikan berkualitas, pengalaman kerja, pelatihan dan sertifikasi kompetensi harus diperluas di Maluku.
Ia berharap anak-anak Maluku tidak harus selalu pergi ke Pulau Jawa untuk mendapatkan pendidikan, pelatihan atau sertifikasi yang sesuai dengan kebutuhan industri.
“Kita harus memastikan anak-anak Maluku yang pintar dan memiliki kemampuan mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkembang,” tuturnya.
Menurut Ruslan, penguatan pendidikan vokasi dan sertifikasi kompetensi dapat menjadi salah satu jalan untuk menjawab persoalan ketenagakerjaan di Maluku. Dengan keterampilan yang sesuai kebutuhan industri, generasi muda tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga memiliki peluang untuk menciptakan lapangan kerja.
Ruslan berharap pemerintah, perguruan tinggi dan perusahaan dapat membangun komunikasi yang lebih kuat dalam merancang program pengembangan sumber daya manusia.
Kebutuhan industri harus menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan kompetensi yang diajarkan kepada peserta didik.
Di sisi lain, perguruan tinggi juga diharapkan mampu menghasilkan inovasi yang dapat diterapkan oleh dunia usaha.
“Pemerintah perlu menyiapkan konsep-konsep terkait pengembangan, mencari model baru dan memperkuat inovasi perguruan tinggi,” katanya.
Ia menambahkan, Maluku memiliki peluang besar untuk mengembangkan sektor-sektor unggulan, khususnya perikanan dan energi. Namun, peluang tersebut membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi dan sertifikasi sesuai standar dunia kerja.
Karena itu, penguatan pendidikan vokasi, program magang, pembelajaran berbasis proyek dan sertifikasi kompetensi dinilai menjadi bagian penting dalam menyiapkan generasi muda Maluku menghadapi persaingan dunia kerja.
Ruslan menegaskan, pembangunan sumber daya manusia harus menjadi bagian penting dari strategi pembangunan Maluku agar potensi besar yang dimiliki daerah dapat dikelola dan memberikan manfaat bagi masyarakat. (PT)








