AMBON, PT– PT Pertamina Patra Niaga melalui Integrated Terminal Wayame terus memperkuat ketersediaan dan kualitas bahan bakar minyak (BBM) Pertamax di Maluku.
Upaya ini dilakukan melalui pemantauan stok secara digital, pengawasan kualitas BBM, serta penguatan distribusi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di wilayah kepulauan.
Manager Integrated Terminal Wayame, Gege Kahutama Gigan, pada 30 September 2026 mengatakan, digitalisasi menjadi salah satu langkah penting untuk memantau ketersediaan BBM di lembaga penyalur secara real time.
Sistem tersebut memungkinkan Pertamina memantau stok BBM di SPBU reguler, SPBU nelayan, maupun Agen Premium Minyak dan Solar (APMS).
“Dengan digitalisasi ini, harapan kami bisa memantau stok di lembaga penyalur, baik itu di SPBU, SPBU nelayan maupun APMS secara real time,” kata Gege.
Menurutnya, pemantauan stok secara digital penting bagi Maluku yang memiliki karakteristik geografis kepulauan. Dengan informasi ketersediaan BBM yang lebih cepat, Pertamina dapat mengantisipasi peningkatan kebutuhan masyarakat dan mengambil langkah distribusi secara lebih responsif.
Selain memastikan ketersediaan, Pertamina juga memperhatikan kualitas BBM yang disalurkan kepada masyarakat agar tetap memenuhi standar yang ditetapkan.
Tantangan distribusi BBM di Maluku tidak terlepas dari jarak antarpulau, kondisi cuaca, serta keandalan moda transportasi. Faktor-faktor tersebut membutuhkan koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk menjaga kelancaran pasokan hingga ke masyarakat.
Ket Gam : Ketua IMI Kota Ambon, Hary Putra Far- Far
“Keandalan moda transportasi, kemudian faktor cuaca dan jarak distribusi yang jauh tersebut tentunya sangat menantang untuk distribusi BBM ke masyarakat,” ungkap pihak manajemen.
Penguatan distribusi tersebut berjalan seiring dengan upaya mendorong penggunaan energi yang lebih ramah lingkungan. Inovasi BBM dengan emisi karbon lebih rendah menjadi bagian dari transformasi sektor energi untuk mendukung ketahanan dan swasembada energi nasional.
Berdasarkan informasi penyaluran dari Integrated Terminal Wayame yang menjadi bahan pemberitaan, distribusi Pertamax disebut mencapai sekitar 50–75 kiloliter (KL) per hari. Jumlah tersebut setara dengan 50.000–75.000 liter per hari.
Manajemen juga menyebut Pertamax menyumbang sekitar 20 persen dari total produk BBM yang dikeluarkan dari Integrated Terminal Wayame setiap hari. Angka ini merupakan porsi penyaluran dari terminal tersebut dan tidak dapat langsung dianggap sebagai persentase konsumsi Pertamax di seluruh Provinsi Maluku.
Di sisi pengguna, Pertamax menjadi salah satu pilihan masyarakat yang mempertimbangkan kenyamanan berkendara dan kebutuhan mesin kendaraan.
Ketua Ikatan Motor Indonesia (IMI) Kota Ambon, Hary Putra Far-Far, menilai penggunaan BBM nonsubsidi, seperti Pertamax, dapat mendukung performa kendaraan apabila sesuai dengan kebutuhan dan spesifikasi mesin.
Menurutnya, pemilihan BBM dengan spesifikasi yang tepat dapat membantu menjaga kinerja mesin serta mendukung proses pembakaran yang lebih optimal.
Ket Gam : Pengguna BBM Pertamax, Valen Talakua saat diwawancarai di Salah Satu SPBU di Kota Ambon, Provinsi Maluku.
Sementara itu, pengguna Pertamax, Valen Talakua, mengaku lebih nyaman menggunakan BBM tersebut karena dinilai lebih bersih, irit, dan membantu menjaga kondisi mesin kendaraannya.
“Sebagai masyarakat sipil, saya lebih nyaman menggunakan Pertamax. Selain mudah dijangkau di Ambon, menurut saya bahan bakarnya lebih bersih, lebih irit, dan bisa membantu menjaga mesin kendaraan agar lebih awet,” ungkap Valen.
Ia mengatakan, kemudahan memperoleh Pertamax di sejumlah SPBU di Kota Ambon menjadi salah satu alasan dirinya memilih BBM nonsubsidi tersebut.
Valen juga menilai penggunaan Pertamax memberikan kenyamanan dalam aktivitas sehari-hari. Meski demikian, ia mengakui harga tetap menjadi pertimbangan masyarakat dalam memilih bahan bakar.
Menurutnya, BBM bersubsidi memiliki daya tarik tersendiri karena harganya lebih terjangkau. Namun, antrean panjang di sejumlah SPBU serta keterbatasan waktu pelayanan dan ketersediaan BBM terkadang menjadi kendala bagi pengendara.
“Kalau BBM bersubsidi, memang harganya lebih murah. Tetapi, kadang-kadang kita harus mengantre cukup lama. Ada juga kondisi ketika BBM hanya tersedia pada waktu tertentu, sehingga Pertamax menjadi pilihan yang lebih praktis,” jelasnya.
Meski memilih Pertamax, Valen memahami bahwa BBM bersubsidi tetap dibutuhkan masyarakat yang berhak menerimanya. Ia berharap penyaluran BBM bersubsidi dapat terus diperhatikan agar tepat sasaran, sementara masyarakat dapat memilih bahan bakar sesuai kebutuhan kendaraan dan kemampuan ekonomi masing-masing.
Bagi Valen, Pertamax menjadi pilihan karena dinilai menawarkan kenyamanan berkendara, efisiensi pemakaian, serta kemudahan memperoleh BBM di tengah aktivitas masyarakat Kota Ambon.
Melalui digitalisasi pemantauan stok, pengawasan kualitas, dan penguatan distribusi, Pertamina Integrated Terminal Wayame terus berupaya menjaga pasokan energi di Maluku. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan layanan energi yang andal sekaligus mendukung inovasi energi yang lebih rendah emisi karbon. (PT)








