AMBON, PT- Dulu, bertani di Dusun Keranjang, Wayame, Kota Ambon, bukan pekerjaan yang mudah bagi Latami dan anggota kelompok taninya. Keterbatasan air membuat mereka kesulitan merawat tanaman. Lahan yang tersedia pun belum dimanfaatkan secara maksimal.
Kini, keadaan itu perlahan berubah. Air sudah mengalir ke kebun, tanaman tumbuh lebih beragam, dan hasil panen mulai dipasarkan ke sejumlah swalayan hingga memenuhi permintaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Bagi Latami, perubahan tersebut bukan datang dalam semalam. Sejak 2023, kelompok tani yang diikutinya mendapat pendampingan dari PT Pertamina Patra Niaga Integrated Terminal (IT) Wayame. Dari bantuan akses air hingga pengetahuan mengelola pertanian, satu per satu persoalan yang selama ini menghambat usaha mereka mulai teratasi.
Latami masih mengingat bagaimana mereka bekerja sebelum mendapat pendampingan.
“Memang sebelum ada bantuan dari Pertamina, katong di sini kerja asal-asalan saja. Tetapi dengan adanya bantuan dari Pertamina, perekonomian keluarga semakin baik. Ilmu yang katong dapat juga sangat membantu tanaman hortikultura,” kata Latami kepada media ini, 29 September 2026.

Ket Gam : Tanaman Seledri yang dibudidayakan oleh Latami di Dusun Karanjang, Wayame, Kota Ambon, Provinsi Maluku.
Bagi para petani, air menjadi kebutuhan yang paling mendesak. Tanpa pasokan yang memadai, merawat tanaman membutuhkan tenaga dan waktu lebih banyak. Apalagi ketika musim kemarau tiba.
Persoalan itu kemudian dijawab melalui pemasangan pompa hidram. Teknologi ini memanfaatkan aliran air untuk mengalirkannya ke lahan tanpa menggunakan bahan bakar minyak maupun listrik.
Pengerjaannya tidak sepenuhnya bergantung pada tenaga dari luar. Para anggota kelompok ikut bekerja secara swadaya, meski saat itu mereka belum memiliki pengetahuan teknis yang memadai.
Usaha tersebut akhirnya membuahkan hasil. Air berhasil dialirkan ke kebun dan hingga kini masih dimanfaatkan untuk kebutuhan pertanian.
“Waktu itu katong kerja swadaya dan akhirnya berhasil. Airnya sampai sekarang masih jalan,” ujar Latami.
Dari situlah kegiatan pertanian mulai berkembang. Air yang tersedia digunakan untuk mengairi lahan sekitar satu hektare. Di area tersebut, para petani menanam berbagai jenis sayuran, mulai dari cabai, tomat, kubis, kacang panjang, jagung, sawi hingga kangkung. Mereka juga mengembangkan budidaya ikan lele.
Perubahan lain yang dirasakan Latami terlihat pada cara mereka merawat tanaman. Dulu, penyiraman dilakukan secara manual. Setiap tanaman harus disiram satu per satu, sehingga pekerjaan itu bisa menghabiskan waktu tiga hingga enam jam.
Setelah menggunakan sistem irigasi tetes atau *drip irrigation*, pekerjaan menjadi jauh lebih ringan. Untuk lahan sekitar setengah hektare, penyiraman kini dapat diselesaikan dalam waktu kurang lebih 20 menit.
“Dulu kita menyiram tanaman satu-satu. Setelah adanya bantuan irigasi drip, sudah tidak lagi. Sekitar setengah hektare lahan, dalam waktu 20 menit tanaman sudah selesai disiram,” tuturnya.

Ket Gam : Tanaman Tomat Yang Memberikan Penghasilan Signifikan saat Panen.
Manfaatnya tidak hanya dirasakan kelompok tani. Warga sekitar yang membutuhkan air juga dapat memanfaatkannya.
Baca Juga Pertamina Patra Niaga dan DPRD Maluku Pastikan Stok Aman, Masyarakat Dihimbau untuk Beli BBM Sesuai Kebutuhan
Menurut Latami, sistem pompa hidram memungkinkan air terus mengalir tanpa biaya bahan bakar. Hal ini menjadi keuntungan tersendiri, terutama saat kemarau ketika kebutuhan air untuk tanaman meningkat.
“Air yang dibantu oleh Pertamina bukan saja kita pakai sendiri, tetapi juga membantu warga yang membutuhkan. Tidak ada biaya karena kita pakai hidram. Air ini gratis karena mengalir selama 24 jam,” katanya.
Ketika persoalan air mulai teratasi, tantangan berikutnya adalah bagaimana menjadikan hasil kebun sebagai sumber pendapatan yang lebih baik.
Kesempatan itu perlahan terbuka. Hasil pertanian kelompok tersebut mulai dipasarkan ke sejumlah swalayan dan memenuhi permintaan dari beberapa titik layanan MBG di Kota Ambon, termasuk di kawasan Wailela.
Bagi kelompok tani Dusun Keranjang, pasar MBG menjadi salah satu tujuan pemasaran yang cukup menjanjikan. Permintaan sejumlah komoditas bahkan terkadang melampaui kemampuan mereka untuk menyediakan hasil panen.
Selada dan timun termasuk komoditas yang banyak diminati. Untuk selada, Latami menyebut permintaan dapat mencapai sekitar 40 kilogram dengan harga Rp50.000 per kilogram.

Ket Gam : Budidaya Selada Bagi Kebutuhan MGB, dan Juga Terdapat Budidaya Lele.
Besarnya permintaan tentu menjadi peluang bagi petani. Namun, di sisi lain, mereka juga harus berhadapan dengan keterbatasan produksi.
“Permintaan paling besar adalah MBG. Kadang katong tidak mampu lagi untuk melayani semua permintaan,” ungkapnya.
Situasi tersebut memperlihatkan perubahan yang dialami kelompok tani. Jika sebelumnya mereka berjuang memenuhi kebutuhan dasar pertanian, kini mereka mulai memikirkan cara meningkatkan hasil panen agar dapat menjangkau pasar yang lebih luas.
Selain menanam di lahan terbuka, kelompok itu mengembangkan budidaya hidroponik. Selada, seledri dan pakcoy menjadi beberapa komoditas yang dihasilkan melalui metode tersebut.
Dari usaha hidroponik, pendapatan bersih kelompok disebut dapat mencapai sekitar Rp8 juta per bulan, bergantung pada jenis dan jumlah produksi.
Kelompok yang beranggotakan sembilan orang itu menerapkan sistem bagi hasil. Uang penjualan terlebih dahulu dikurangi biaya produksi. Setelah itu, hasil bersih dibagikan kepada anggota.
Bagi Latami, penghasilan yang diperoleh memang penting. Namun, ada hal lain yang juga berubah: mereka kini memiliki pengetahuan dan cara kerja yang lebih baik dalam mengelola usaha pertanian.
Program yang dijalankan Pertamina IT Wayame di Dusun Keranjang dikenal dengan nama Demplot Hortikultura Bumi Wayame.
Community Development Officer Pertamina IT Wayame, Risma Justhia, menjelaskan bahwa persoalan air menjadi perhatian pertama sebelum program pemberdayaan pertanian dikembangkan.
“Fokus pertama program ini adalah pengadaan akses air bersih karena masalah utamanya adalah ketidaktersediaan air bersih,” jelas Risma.
Pompa hidram dipilih karena dapat bekerja tanpa BBM maupun listrik. Setelah akses air tersedia, pendampingan dilanjutkan dengan pengembangan pertanian dan peningkatan kemampuan kelompok dalam mengelola lahan.
Baca Juga Telkomsel Perluas Jangkauan 4G/LTE di Maluku, Dorong Pemerataan Akses Broadband Hingga ke Lobang Buaya Morella
“Setelah kita menyediakan air bersih, pemberdayaan kita fokuskan ke pertanian,” katanya.
Dampaknya terlihat pada bertambahnya jenis tanaman yang dibudidayakan. Jika sebelumnya kelompok hanya menghasilkan sekitar empat komoditas, pengembangan program membuat jumlahnya meningkat menjadi sekitar 12 komoditas.
Pertamina juga mendukung pengembangan hidroponik. Di bawah instalasi tersebut, tersedia kolam untuk budidaya ikan lele sehingga kegiatan pertanian dan perikanan dapat berjalan berdampingan.
Namun, program ini tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan jumlah produksi. Pertamina juga mendorong agar sumber daya yang tersedia bisa dimanfaatkan kembali, termasuk limbah dari kegiatan pertanian.
Sisa bahan organik diolah menjadi pupuk kompos. Setelah melalui proses pengomposan, pupuk tersebut digunakan kembali untuk mendukung pertumbuhan tanaman.
Dengan cara itu, petani tidak hanya menghasilkan sayuran, tetapi juga belajar mengelola limbah yang sebelumnya berpotensi terbuang.
“Di Dusun Keranjang ini kami berfokus pada sirkulasi ekonomi. Ada perputaran ekonomi dari air bersih, kemudian digunakan untuk pertanian, baik hortikultura maupun hidroponik. Ketika mereka menghasilkan limbah, limbah itu kita olah menjadi pupuk kompos. Setelah pengomposan, pupuknya digunakan kembali untuk pertanian,” papar Risma.
Pola tersebut membuat setiap kegiatan saling berkaitan. Air dimanfaatkan untuk pertanian, kegiatan pertanian menghasilkan limbah, kemudian limbah diolah menjadi kompos dan digunakan kembali di kebun.
Meski perkembangannya cukup menggembirakan, kelompok tani Dusun Keranjang masih menghadapi sejumlah kendala.
Budidaya lele, misalnya, belum sepenuhnya memberikan hasil yang diharapkan karena persoalan pemasaran. Petani harus membawa hasil budidaya ke pasar di Kota Ambon dan bersaing dengan pasokan lele dari daerah lain.
Kondisi tanah juga menjadi tantangan dalam pengembangan pertanian. Ketersediaan air tetap perlu dijaga agar kegiatan budidaya dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Karena itu, peningkatan produksi perlu berjalan beriringan dengan penguatan pemasaran dan kemampuan kelompok mengelola usaha. Permintaan dari pasar swalayan maupun MBG yang belum seluruhnya dapat dipenuhi menjadi peluang sekaligus pekerjaan rumah bagi para petani.
Perjalanan sejak 2023 menunjukkan bahwa perubahan di Dusun Keranjang berlangsung secara bertahap. Akses air yang lebih baik memberi ruang bagi petani untuk mengembangkan tanaman. Pengetahuan baru membantu mereka bekerja lebih efisien, sedangkan pasar yang mulai terbuka memberikan kesempatan untuk menambah pendapatan keluarga.
Kini, Latami dan delapan anggota kelompok lainnya tidak lagi hanya mengandalkan cara bertani seadanya. Mereka mulai membangun usaha yang lebih terarah, dari mengelola lahan, menentukan komoditas hingga memenuhi permintaan pembeli.
Lahan yang dahulu belum dimanfaatkan secara maksimal kini mulai produktif. Air yang sebelumnya menjadi kendala telah membantu membuka jalan bagi pertumbuhan usaha pertanian.
Bagi para petani Dusun Keranjang, perubahan itu menjadi pengalaman berharga. Bantuan memang membuka kesempatan, tetapi pengetahuan, kerja bersama dan kemampuan mengelola usaha menjadi bekal agar kesempatan tersebut bisa terus berkembang. (PT)








