Home / Economy

Kamis, 1 Oktober 2026 - 15:43 WIB

Dari Kebun ke Pasar, Minyak Atsiri Wayame Jadi Sumber Penghidupan Warga

AMBON, PT-  Berawal dari usaha kecil dengan peralatan sederhana, kelompok Bunga Tani di Dusun Kajang, Desa Wayame, Kota Ambon, Maluku, kini mampu mengembangkan tanaman lokal menjadi minyak atsiri bernilai jual.

Usaha yang dirintis dengan penuh keterbatasan itu perlahan membuka peluang pendapatan bagi petani dan masyarakat sekitar.

Di ruang produksi milik kelompok tersebut, daun dan bahan baku tanaman lokal dicacah, kemudian dimasak melalui proses penyulingan hingga menghasilkan minyak atsiri. Setelah dipisahkan, minyak dikemas untuk dipasarkan kepada konsumen.

Bagi Ketua Kelompok Minyak Atsiri Bunga Tani, Layapi, usaha ini bukan sekadar mencari keuntungan. Ada proses panjang yang harus dilalui, mulai dari belajar teknologi penyulingan, menghadapi kegagalan, hingga meyakinkan masyarakat bahwa tanaman yang tumbuh di sekitar mereka memiliki nilai ekonomi.

Ket Gam : Proses Penyulingan Minyak Atsiri Yang dilakukan Layapi bersama Rekannya di Dusun Karanjang, Desa Wayame, Kota Ambon, Maluku pada 1 Oktober 2026.

Minyak Atsiri yang dikembangkan oleh Layapi itu merupakan beberapa jenis yakni Minyak Sere, Minyak Kayu Putih, Minyak Nilam.

Layapi mulai mengenal usaha penyulingan minyak atsiri sekitar 2015. Ketertarikannya berawal dari informasi seorang rekan di Makassar mengenai teknologi pengolahan tanaman menjadi minyak atsiri.

Ia kemudian pergi ke Makassar untuk mempelajari proses penyulingan. Pengetahuan yang diperoleh dibawa pulang ke Wayame untuk dikembangkan menjadi usaha.

Namun, memulai usaha tersebut bukan perkara mudah. Layapi mengaku beberapa kali mengalami kegagalan dalam proses penyulingan. Meski demikian, ia tetap berusaha memperbaiki proses produksi sambil mengembangkan tanaman yang dapat dijadikan bahan baku.

Pada masa awal, tantangan tidak hanya datang dari proses produksi. Masyarakat juga belum sepenuhnya memahami bahwa tanaman tersebut dapat memberikan penghasilan.

Layapi kemudian mencoba memperkenalkan peluang itu kepada para petani. Kelompok Bunga Tani menyediakan bibit, mendorong masyarakat untuk menanam, lalu membeli hasil panen mereka untuk diolah menjadi minyak atsiri.

“Awalnya petani belum tahu kalau tanaman ini bisa dijual. Kami memberikan contoh, menyediakan bibit, kemudian hasilnya kami beli,” ungkap Layapi, 1 Oktober 2026.

Cara tersebut perlahan membuka jalan bagi masyarakat untuk terlibat dalam usaha minyak atsiri. Petani tidak hanya menanam, tetapi juga memiliki kepastian pasar untuk hasil tanaman yang mereka produksi.

Baca Juga  Tunjang Rencana Pembangunan Daerah 2025, Pemkot Tetapkan 10 Proyek Strategis

Sementara itu, kelompok Bunga Tani mendapatkan pasokan bahan baku untuk menjaga keberlangsungan produksi.

Dari yang semula dikerjakan secara terbatas, usaha ini terus berkembang. Dalam sebulan, bahan baku yang diolah kini mencapai sekitar satu ton. Jumlah minyak yang dihasilkan berkisar belasan hingga sekitar 20 kilogram, bergantung pada jenis tanaman dan kualitas bahan baku.

Nilai jual produk juga berbeda sesuai bentuk pemasarannya. Menurut Layapi, minyak yang dijual dalam bentuk curah menghasilkan pendapatan ratusan ribu rupiah untuk satu kali produksi. Sementara produk yang telah dikemas dan dijual secara eceran dapat memberikan nilai penjualan lebih dari Rp1 juta, bergantung pada jenis dan jumlah produk.

Perbedaan itu mendorong kelompok Bunga Tani untuk tidak lagi hanya mengandalkan penjualan minyak curah. Mereka mulai membangun identitas produk melalui penggunaan merek sendiri, perbaikan kemasan, dan pengurusan legalitas usaha.

“Setelah ada izin dan kemasan, kita sudah bisa mengirim produk dengan merek sendiri. Harganya juga berbeda, pemasukan dan pendapatan juga berbeda,” kata Layapi.

Produk minyak atsiri Bunga Tani kini telah dipasarkan ke Makassar dan sejumlah daerah lain di Indonesia. Kelompok tersebut juga terus berupaya memperluas jangkauan pemasaran agar produknya dapat menjangkau pasar yang lebih besar.

Perkembangan usaha ini turut mendapat dukungan melalui program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) Pertamina Integrated Terminal (IT) Wayame.

Community Development Officer Pertamina IT Wayame, Risma Justhia, menjelaskan bahwa dukungan kepada kelompok Bunga Tani diawali dengan pemetaan sosial untuk mengidentifikasi potensi dan kebutuhan masyarakat.

Dari hasil pemetaan tersebut, Pertamina melihat usaha minyak atsiri memiliki peluang untuk dikembangkan. Namun, masih terdapat sejumlah kendala, terutama keterbatasan peralatan produksi, pemasaran, pengemasan, dan legalitas produk.

Karena itu, pendampingan tidak hanya berfokus pada pemberian bantuan peralatan. Kelompok juga mendapat dukungan untuk meningkatkan kemampuan pemasaran, mengurus perizinan, membangun merek, serta memperbaiki kemasan produk.

“Mulai dari penyediaan sarana prasarana, pelatihan digital marketing, bagaimana pemasarannya, pendampingan pengurusan izin, pengemasan, branding dan sebagainya,” jelas Risma.

Sejumlah bantuan yang diberikan meliputi mesin pencacah, rumah produksi, dan profil tank untuk mendukung kegiatan usaha.

Dukungan tersebut diharapkan dapat membantu kelompok meningkatkan kapasitas produksi sekaligus menjaga kualitas hasil olahan. Dengan fasilitas yang lebih memadai, proses pengolahan bahan baku hingga pengemasan produk diharapkan semakin baik.

Baca Juga  Rekomendasi DPRD Kota Ambon, Far- Far :  Tingkatkan Kualitas LKPJ dan Koordinasi OPD untuk Tata Kelola Pemerintahan yang Lebih Baik

Meski demikian, Pertamina tidak ingin usaha tersebut terus bergantung pada bantuan perusahaan. Pendampingan yang telah memasuki tahun keempat itu diarahkan untuk memperkuat kemampuan kelompok dalam mengelola usaha secara mandiri.

Ke depan, Bunga Tani diharapkan mampu menjalankan seluruh tahapan usaha, mulai dari penyediaan bahan baku, proses produksi, pengemasan, pemasaran hingga pengelolaan hasil penjualan.

“Target kita adalah memberdayakan masyarakat sehingga mereka mandiri dan tercipta keberlanjutan ekosistem. Program ini nantinya tidak bergantung pada Pertamina,” ujar Risma.

Pendekatan tersebut sejalan dengan prinsip *Corporate Shared Value*, yakni upaya menciptakan manfaat ekonomi yang dapat dirasakan perusahaan sekaligus masyarakat di sekitarnya.

Melalui usaha minyak atsiri, manfaat ekonomi diharapkan tidak berhenti pada kelompok pengolah. Petani memperoleh penghasilan dari penjualan bahan baku, kelompok Bunga Tani mendapatkan nilai tambah melalui proses penyulingan, sedangkan warga lainnya memperoleh kesempatan kerja.

Saat ini, sekitar 10 orang telah terlibat dalam kegiatan produksi minyak atsiri Bunga Tani.

Bagi usaha yang tumbuh dari skala kecil, keterlibatan tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan kelompok. Usaha ini bukan hanya menghasilkan produk untuk dijual, tetapi juga membuka kesempatan bagi warga untuk memperoleh penghasilan dari potensi yang tersedia di lingkungan mereka.

Layapi berharap produksi minyak atsiri terus meningkat seiring bertambahnya ketersediaan bahan baku dan meluasnya pasar. Ia juga ingin semakin banyak masyarakat melihat peluang ekonomi dari tanaman lokal yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.

Perjalanan Bunga Tani menunjukkan bagaimana pengetahuan, kemauan untuk belajar, dan kerja sama dengan petani dapat mengubah potensi tanaman menjadi produk bernilai jual.

Dari kebun, bahan baku dibawa ke tempat penyulingan. Setelah melalui proses pengolahan, minyak dikemas dan dipasarkan ke berbagai daerah. Di setiap tahap itu, ada penghasilan yang diharapkan terus mengalir bagi orang-orang yang terlibat.

Bagi masyarakat Wayame, minyak atsiri kini menjadi lebih dari sekadar hasil olahan tanaman. Usaha tersebut telah membuka peluang untuk mengembangkan potensi lokal, memperluas pasar, dan membangun sumber penghidupan yang dapat terus tumbuh di tengah masyarakat. (PT)

Share :

Baca Juga

Economy

Hari Ini, Secara Resmi OJK Awasi Pergerakkan Kripto

Economy

Maluku Jadi Sorotan : Blok Masela dan Peranannya Dalam Mendukung Ketahanan Energi Nasional

Economy

Wali Kota Dorong Seni Qasidah Jadi Penguat Branding “Ambon City of Music”

Economy

Perbaikan SKKL SMPCS Ruas Namlea–BU6 Tuntas, Layanan Internet Kembali Normal

Economy

SEKTOR JASA KEUANGAN YANG RESILIENT UNTUKMENDUKUNG PERCEPATAN PERTUMBUHAN EKONOMI NASIONAL

Economy

Akulaku Finance Indonesia Dorong Penguatan Literasi dan Inklusi Keuangan bagi Masyarakat Kota Ambon

Economy

OJK MALUKU GELAR CAPACITY BUILDING SDM BANK DAN DONOR DARAH

Economy

Pertumbuhan Ekonomi Menguatkan Pada Triwulan III 2025