Ambon, PT – Barselina Batumlawar (57) bersama 24 perempuan lainnya di Desa Tawiri, Kota Ambon, Maluku terus menjaga tradisi tenun khas Tanimbar.
Mereka tidak hanya mempertahankan keterampilan menenun, tetapi juga mulai menanam sendiri tanaman yang digunakan sebagai bahan pewarna alami untuk menghasilkan kain.
Di lokasi usaha kelompok Ikat Mawar, tanaman kunyit, kayu secang, dan indigo menjadi bagian dari proses pembuatan kain, 2 Oktober 2026.
Kunyit dimanfaatkan untuk menghasilkan warna kuning, kayu secang menghasilkan warna merah hingga merah muda, sedangkan indigo digunakan untuk memperoleh warna biru.
Ket Gam : Ibu Barsenina Batumlawar saat Menenun, 2 Oktober 2026 di Negeri Tawiri, Kota Ambon, Maluku.
Bagi kelompok ini, menenun bukan sekadar menghasilkan kain untuk dijual. Keterampilan tersebut merupakan warisan budaya yang ingin mereka teruskan kepada anak-anak dan generasi muda.
Upaya itu mendapat pendampingan dari Pertamina sejak 2024. Program tersebut diarahkan untuk membantu para penenun mengembangkan usaha sekaligus menggunakan bahan pewarna yang lebih ramah lingkungan.
CDO AFT Pertamina, Imam Satrio, menjelaskan bahwa kelompok Ikat Mawar dipilih karena memiliki potensi dalam melestarikan budaya Maluku, khususnya kain tenun khas Tanimbar.
Menurut Imam, penggunaan pewarna alami menjadi salah satu perhatian dalam pendampingan. Sebelumnya, proses pewarnaan masih menggunakan bahan sintetis. Melalui program ini, para penenun didorong untuk memanfaatkan tanaman yang dapat dibudidayakan sendiri.
“Kelompok ini terdiri dari sekitar 25 perempuan yang melestarikan budaya khas Tanimbar. Mereka menanam sendiri tanaman untuk pewarna, seperti kunyit untuk warna kuning, secang untuk merah atau merah muda, dan indigo untuk warna biru,” jelas Imam.
Ket Gam : Proses Pemasangan Benang-Benang Dengan Berbagai Warna.
Penanaman tanaman pewarna juga diharapkan membantu kelompok mengurangi ketergantungan pada bahan yang harus dibeli dari luar, terutama ketika harga pewarna alami mengalami kenaikan.
Dengan memiliki tanaman sendiri, para penenun dapat menyiapkan bahan baku secara lebih mandiri untuk mendukung kegiatan produksi.
Pendampingan Pertamina tidak hanya berfokus pada proses pewarnaan. Para anggota kelompok juga mendapatkan pelatihan menjahit agar kain tenun yang dihasilkan dapat diolah menjadi produk lain yang memiliki nilai jual.
Jika sebelumnya mereka lebih banyak menjual kain dalam bentuk lembaran, kini kain tersebut mulai dikembangkan menjadi pakaian. Kelompok juga membuat berbagai kerajinan, seperti gelang, anting-anting, dan gantungan kunci.
Imam mengatakan, pengembangan produk dilakukan untuk memperluas pilihan bagi konsumen sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan keluarga para penenun.
Pemasaran dilakukan melalui pameran dan media sosial. Dalam sejumlah kegiatan pameran, produk kelompok mendapat perhatian pengunjung, termasuk wisatawan yang tertarik membeli kain tenun dan kerajinan yang mereka hasilkan.
Salah satu kegiatan yang diikuti kelompok berlangsung di kawasan wisata Namalatu. Kesempatan tersebut dimanfaatkan untuk memperkenalkan produk tenun kepada masyarakat yang lebih luas.
Melalui pengembangan produk dan pemasaran, kelompok diharapkan tidak hanya bergantung pada penjualan kain tenun, tetapi juga memiliki pilihan usaha lain yang berasal dari keterampilan yang mereka kuasai.
Bagi Barselina dan anggota kelompok lainnya, menjaga tradisi tenun juga berarti memastikan keterampilan tersebut dikenal oleh generasi berikutnya.
Para anggota menjalankan kegiatan menenun di rumah masing-masing. Dalam keseharian itu, anak-anak dapat melihat langsung bagaimana kain dibuat, mulai dari menyiapkan benang hingga menyelesaikan tenunan.
Cara tersebut menjadi salah satu jalan untuk mengenalkan keterampilan menenun kepada anak-anak sejak dini. Harapannya, mereka tidak hanya mengenal kain tenun sebagai produk budaya, tetapi juga memahami proses dan ketekunan yang dibutuhkan untuk membuatnya.
Imam mengatakan, keberlanjutan kelompok menjadi perhatian dalam program pendampingan Pertamina. Salah satu upayanya adalah mendorong munculnya penerus lokal agar kegiatan menenun tidak bergantung pada satu atau dua orang saja.
Kelompok diharapkan dapat terus menjalankan kegiatan secara kelembagaan, mengembangkan produk, dan meneruskan keterampilan kepada generasi muda meskipun masa pendampingan berakhir.
Bagi para perempuan penenun di Tawiri, usaha ini memiliki dua tujuan yang berjalan beriringan: menjaga warisan budaya Tanimbar dan membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
Kain yang dihasilkan tidak hanya membawa nilai seni dan tradisi, tetapi juga membuka peluang pendapatan melalui penjualan kain, pakaian, dan berbagai kerajinan.
Dengan memanfaatkan tanaman sebagai pewarna alami serta mengembangkan produk sesuai kebutuhan pasar, Barselina dan kelompok Ikat Mawar berupaya menjaga agar keterampilan menenun tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Dari tanaman yang mereka rawat hingga kain yang diselesaikan dengan teliti, setiap proses menjadi bagian dari usaha mempertahankan tradisi sekaligus membangun penghidupan bagi perempuan di Desa Tawiri. (PT)








