AMBON, PT – Aroma ikan bakar menyambut pengunjung yang datang ke kawasan pesisir Negeri Laha, Kota Ambon, Maluku. Di antara aktivitas warga dan kepulan asap dari tempat pembakaran ikan, mama-mama sibuk melayani pembeli yang ingin menikmati ikan bakar dan nasi kelapa.
Kawasan yang dahulu lebih dikenal sebagai tempat pelelangan ikan itu kini mulai berkembang menjadi tujuan wisata kuliner. Pengunjung tidak hanya datang dari masyarakat setempat, tetapi juga dari berbagai wilayah di Kota Ambon.
Di balik perubahan tersebut, ada upaya masyarakat memanfaatkan sampah plastik menjadi sesuatu yang bernilai guna. Sampah yang dikumpulkan di lingkungan sekitar diolah menjadi ecobrick kemudian digunakan sebagai bahan untuk mendukung pembangunan fasilitas wisata.
Perubahan ini merupakan bagian dari program Lau Sabua yang dijalankan PT Pertamina Patra Niaga Aviation Fuel Terminal (AFT) Pattimura melalui pendampingan masyarakat Negeri Laha.
Community Development Officer (CDO) Pertamina Patra Niaga AFT Pattimura, Annisa Salsa Bila, menjelaskan bahwa persoalan sampah menjadi salah satu perhatian utama dalam program tersebut.
Masyarakat didorong mengumpulkan sampah plastik, lalu memadatkannya ke dalam botol hingga menjadi ecobrick. Material itu selanjutnya dimanfaatkan untuk pembangunan fasilitas penunjang kawasan wisata.
“Jadi, masyarakat mengumpulkan sampah untuk dibentuk menjadi ecobrick. Ecobrick itu kemudian menjadi bahan material untuk pembangunan fasilitas di sini,” jelas Annisa, 3 Oktober 2026.
Ket Gam : Affan Laturua sebagai Ketua Lau Sabua Manise saat menyusun cercahan Sampah dalam botol akua sehingga menjadi suatu Ecobrick yang menarik.
Melalui cara tersebut, sampah yang sebelumnya berpotensi mencemari lingkungan dapat dimanfaatkan kembali. Pada saat yang sama, keterlibatan warga menjadi bagian penting dalam membangun kawasan wisata yang memberi manfaat bagi masyarakat.
Pertamina turut mendukung pembangunan fasilitas berupa food stall dan gapura kawasan wisata. Kehadiran fasilitas itu diharapkan dapat menunjang aktivitas perdagangan sekaligus mendorong perkembangan wisata kuliner Negeri Laha.
Menurut Annisa, sebelum kawasan tersebut berkembang, pengunjung yang datang umumnya berasal dari kalangan nelayan dan warga setempat. Kini, semakin banyak pengunjung dari luar Negeri Laha yang datang untuk menikmati sajian ikan bakar dan makanan khas lainnya.
Pengembangan wisata Negeri Laha tidak hanya berfokus pada pembangunan fasilitas. Pengelolaan sampah juga menjadi bagian dari upaya menjaga lingkungan agar kawasan tersebut dapat berkembang secara berkelanjutan.
Sampah plastik dikumpulkan dan dipadatkan ke dalam botol untuk menghasilkan ecobrick. Material tersebut kemudian dimanfaatkan dalam pembangunan fasilitas yang mendukung aktivitas masyarakat.
Annisa menyebutkan, jumlah sampah yang terkumpul dapat mencapai sekitar 200 kilogram per hari berdasarkan keterangan yang disampaikannya.
Program ini juga melibatkan kelompok pemuda. Sekitar 20 pemuda disebut tergabung dalam kelompok yang mendapat pendampingan untuk mendukung pelaksanaan kegiatan.
Bagi masyarakat, pengelolaan sampah tersebut diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pengumpulan, tetapi menjadi kebiasaan yang dapat terus dilakukan untuk menjaga kebersihan lingkungan.
“Jadi, apa yang ada di masyarakat kembali lagi ke masyarakat, untuk kebutuhan infrastruktur dan juga kemajuan di Negeri Laha,” ujarnya.
Pendekatan tersebut memperlihatkan bagaimana persoalan lingkungan dapat dihubungkan dengan kebutuhan pembangunan. Sampah yang dikumpulkan warga dimanfaatkan kembali, sementara fasilitas yang dibangun dapat menunjang kegiatan ekonomi masyarakat.
Perubahan kawasan wisata turut membuka kesempatan bagi warga untuk mengembangkan usaha kuliner.
Annisa menjelaskan, sebelumnya hanya sekitar empat hingga lima ibu yang berjualan ikan dan makanan di kawasan tersebut. Seiring meningkatnya kunjungan, jumlah pedagang bertambah hingga diperkirakan mencapai 15 orang.
Mereka menawarkan berbagai hidangan, terutama ikan bakar dan nasi kelapa yang menjadi salah satu daya tarik kuliner Negeri Laha.
Bertambahnya jumlah pedagang memberikan ruang bagi lebih banyak keluarga untuk memperoleh penghasilan dari aktivitas perdagangan. Kawasan yang sebelumnya identik dengan kegiatan perikanan kini juga menjadi tempat tumbuhnya usaha kecil masyarakat.
Annisa menyebutkan, pendapatan salah seorang pedagang yang sebelumnya sekitar Rp400 ribu per hari kini dapat mencapai Rp1 juta per hari.
Angka tersebut menunjukkan peluang ekonomi yang mulai terbuka seiring meningkatnya aktivitas di kawasan itu. Namun, pendapatan setiap pedagang dapat berbeda, bergantung pada jumlah pembeli dan hasil penjualan harian.
Ket Gam : Raja Negeri Laha, Muhammad Yasir Mewar saat diwawancarai.
Bagi mama-mama yang berjualan, bertambahnya pengunjung menjadi kesempatan untuk memperluas usaha. Sementara itu, bagi pemuda yang terlibat dalam program, perkembangan kawasan tersebut menjadi dorongan untuk terus menjaga dan mengembangkan potensi wisata Negeri Laha.
Pendampingan Pertamina melalui program Lau Sabua telah berjalan sekitar dua tahun. Program tersebut direncanakan memiliki masa pendampingan hingga lima tahun.
Ke depan, pengembangan kawasan tidak hanya diarahkan pada penyediaan fasilitas wisata. Pertamina juga merencanakan pembangunan fasilitas tambahan berbahan ecobrick pada tahun ini serta pengembangan rumah produksi ikan.
Annisa mengatakan, rumah produksi tersebut diharapkan dapat membuka peluang bagi mama-mama Negeri Laha untuk mengolah hasil perikanan menjadi produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
Selama ini, ikan hasil tangkapan nelayan banyak dimanfaatkan untuk konsumsi sehari-hari dan dijual sebagai hidangan bagi pengunjung. Melalui pengolahan lebih lanjut, ikan berpeluang dikembangkan menjadi produk yang dapat dipasarkan lebih luas, termasuk sebagai oleh-oleh khas Negeri Laha.
Pengembangan produk olahan juga diharapkan memperluas keterlibatan perempuan dalam kegiatan ekonomi lokal. Dengan demikian, manfaat potensi perikanan tidak hanya dirasakan nelayan, tetapi juga keluarga yang terlibat dalam pengolahan dan pemasaran hasil laut.
Raja Negeri Laha, Muhammad Yasir Mewar, berharap pengembangan kawasan wisata tersebut dapat terus berlanjut dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
Menurut dia, Negeri Laha memiliki potensi alam yang masih dapat dikembangkan, termasuk kawasan perairan dan mangrove yang berpeluang menjadi daya tarik wisata.
Meningkatnya kunjungan ke kawasan kuliner dinilai sebagai kesempatan bagi masyarakat untuk mengembangkan potensi lokal secara lebih luas. Aktivitas ekonomi yang sebelumnya bertumpu pada perikanan kini dapat diperkuat melalui usaha kuliner dan kegiatan wisata.
Yasir juga berharap para pemuda tetap bersemangat melanjutkan program meskipun masa pendampingan Pertamina nantinya berakhir.
“Saya yakin dengan berakhirnya bantuan Pertamina, pemuda Negeri Laha tetap optimistis dan bisa melakukan yang terbaik untuk masyarakat Negeri Laha maupun masyarakat Kota Ambon pada umumnya,” ungkap Yasir.
Harapan tersebut menjadi tantangan bagi masyarakat untuk menjaga fasilitas yang telah dibangun, mempertahankan kebersihan lingkungan, dan mengelola usaha secara berkelanjutan.
Sebab, keberhasilan sebuah kawasan wisata tidak hanya ditentukan oleh jumlah pengunjung. Kebersihan, kualitas makanan, kenyamanan tempat, serta kemampuan masyarakat mengelola usaha juga berperan penting dalam menjaga daya tariknya.
Di Negeri Laha, perubahan mulai terlihat melalui bertambahnya pedagang, hadirnya fasilitas wisata, dan upaya pemanfaatan sampah plastik menjadi ecobrick.
Ikan hasil tangkapan nelayan kini tidak hanya menjadi sumber pangan, tetapi juga daya tarik yang mengundang pengunjung. Sementara itu, sampah yang dikumpulkan masyarakat dimanfaatkan untuk mendukung pembangunan fasilitas kawasan.
Dari pesisir Negeri Laha, tumbuh upaya menghubungkan kepedulian terhadap lingkungan dengan pengembangan ekonomi masyarakat. Sebuah langkah yang diharapkan dapat terus berkembang, sehingga potensi wisata lokal memberikan manfaat bagi warga tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan. (PT)








