Home / Kab.Kep.Tanimbar

Rabu, 25 Februari 2026 - 20:17 WIB

Sombong Jadi Bupati karena Suara Rakyat Dibeli? Gilang Kelyombar Kritik Keras Ricky Jauwerissa di Podcast “Bacarita Tanimbar”

Jakarta, PT-  Polemik pernyataan Bupati Kepulauan Tanimbar, Ricky Jauwerissa, dalam podcast bertajuk “Bacarita Tanimbar” berbuntut panjang. Tudingan terhadap oknum wartawan dan aktivis yang disampaikan dalam podcast kerja sama Pemda dan DPC GAMKI itu kini mendapat respons keras dari aktivis sekaligus jurnalis Tanimbar, Gilang Kelyombar.

Dalam rilis resmi yang diterima media ini, Kelyombar menilai pernyataan Bupati tidak mencerminkan sikap seorang pemimpin daerah. Ia menyebut, tudingan yang dilontarkan tanpa bukti dan data justru berpotensi memperkeruh kondisi sosial di Kabupaten Kepulauan Tanimbar.

Menurut Kelyombar, seorang kepala daerah seharusnya menjaga tutur kata dan komunikasi publik agar tidak menimbulkan konflik berkepanjangan. Ia mempertanyakan dasar tudingan bahwa wartawan kerap membelokkan pernyataan pejabat.

“Apakah seperti itu cara komunikasi seorang pimpinan daerah? Menuding tanpa bukti dan data? Itu bukan cerminan seorang bapak bagi masyarakatnya,” tegasnya.

Baca Juga  Rekomendasi Perubahan Pergub Maluku No. 1 Tahun 2012, Feninlambir:  Standar Kompensasi Kayu & Pengelolaan Hutan Berkelanjutan

Ia juga mengaku telah beberapa kali mencoba menghubungi Bupati untuk melakukan konfirmasi terkait isu dan pemberitaan. Namun, menurutnya, upaya tersebut tidak pernah mendapat respons, baik melalui telepon maupun pesan WhatsApp.

Kelyombar menegaskan bahwa kerja jurnalistik memiliki aturan dan kode etik yang jelas. Ia membantah anggapan bahwa media yang tidak bekerja sama dengan pemerintah daerah akan dilarang memuat pemberitaan positif.

“Bukan karena tidak ada kerja sama lalu media tidak boleh memberitakan hal positif. Itu pemikiran yang keliru,” ujarnya.

Ia juga menolak tudingan bahwa pemberitaan negatif muncul karena perbedaan pilihan politik saat Pilkada. Bahkan, ia menyayangkan adanya pernyataan yang menyeret nama Petrus Fatlolon dalam konteks tersebut.

Lebih jauh, Kelyombar menilai sikap yang ditunjukkan dalam podcast tersebut terkesan angkuh dan arogan. Ia bahkan menyinggung dugaan bahwa kepemimpinan yang lahir dari praktik “membeli suara rakyat” akan menghasilkan kualitas kepemimpinan yang dipertanyakan.

Baca Juga  Abeyaman : Tim BerSATU di Grebeg Tidak Sesuai Prosedur

Pernyataan itu, menurutnya, justru berpotensi memicu konflik antara pemerintah daerah dan kalangan aktivis serta jurnalis di Tanimbar.

“Jika pemimpin lahir dari perjuangan hati, kualitasnya pasti berbeda. Tapi jika dari praktik membeli suara rakyat, hasilnya bisa terlihat dari sikap dan pernyataannya,” tegasnya.

Meski melontarkan kritik keras, Kelyombar mengajak rekan-rekan aktivis dan jurnalis untuk tetap berada di jalur perjuangan yang konstruktif. Ia menegaskan bahwa kritik harus tetap dibarengi kontribusi pemikiran demi pembangunan daerah.

“Tanimbar adalah tanah kita. Kita lahir dan dibesarkan di sini. Bukan milik pribadi siapa pun,” ujarnya.

Ia pun mengajak insan pers untuk terus menulis dan mempromosikan potensi Tanimbar agar semakin dikenal di tingkat nasional maupun internasional. (PT)

Share :

Baca Juga

Kab.Kep.Aru

Wujudkan Indonesia Emas 2045, Oratmangun Kembali Benahi KKT

Kab. Seram Bagian Barat

No Arms, No Legs, No Worries

Kab.Kep.Tanimbar

Kejar Penegakkan Kepatuhan Program JKN, BPJS Kesehatan Sinergi Dengan Stakeholder

Kab.Kep.Tanimbar

Optimis Kantongi Rekomendasi Enam Parpol, Ini Jelas Fatlolon

Kab.Kep.Tanimbar

Empat Nelayan Kabupaten Kepulauan Tanimbar Berhasil Diselamatkan

Kab.Kep.Tanimbar

Abeyaman : Tim BerSATU di Grebeg Tidak Sesuai Prosedur

Kab.Kep.Tanimbar

Laturua : Masih Tersangka Belum Putusan, Fatlolon Siap Berpolitik

Kab.Kep.Tanimbar

Rekomendasi Perubahan Pergub Maluku No. 1 Tahun 2012, Feninlambir:  Standar Kompensasi Kayu & Pengelolaan Hutan Berkelanjutan