Malteng, PT – Ketegangan sosial kembali mencuat di Negeri Akoon, Kecamatan Nusalaut, Kabupaten Maluku Tengah.
Hal ini dipicu oleh tindakan sepihak yang dilakukan oleh Kepala Pemerintah Negeri Akoon, Dace Tahapary, dalam pelaksanaan ritual adat Panas Pela, tanpa musyawarah bersama masyarakat.
Akibatnya, terjadi perpecahan di kalangan warga yang kini terbagi dalam dua kubu: pendukung Tanahanu dan Rumalait Yapissano.
Ferly Tahapary, SH, MM, selaku tokoh muda dan aktivis hukum, menghimbau Bupati Maluku Tengah agar segera mengevaluasi kinerja Kepala Pemerintah Negeri Akoon.
“Tindakan Dace Tahapary telah menimbulkan keresahan masyarakat, memperburuk hubungan antarwarga, dan bahkan berpotensi menimbulkan konflik berkepanjangan,” katanya kepada pusartimur.com melalui pesan WhatsApp, Minggu 20 April 2025.
Selain itu, terdapat permasalahan serius terkait sengketa tanah yang hingga kini tidak diselesaikan secara arif dan bijaksana oleh pihak pemerintah negeri, menambah deretan keresahan masyarakat Akoon.
“Dalam waktu dekat, saya akan menempuh langkah hukum terhadap Dace Tahapary terkait dugaan pencemaran nama baik serta tindakan-tindakan yang tidak mencerminkan kepemimpinan yang adil dan berorientasi pada kepentingan masyarakat,” tukasnya.
Untuk itu, kami mendesak Bupati Maluku Tengah agar segera melakukan tindakan tegas demi memulihkan keharmonisan dan persatuan masyarakat Negeri Akoon.
“Hanya dengan kepemimpinan yang bijak dan berpihak pada rakyat, Negeri Akoon bisa kembali damai, kompak, dan bersatu sebagai Basudara,” tandasnya. (PT)