Home / Headline

Minggu, 20 September 2026 - 18:48 WIB

Peletakan Batu Pertama Pastori Patahuwe, Gubernur Maluku Dorong Rekonsiliasi dan Pemulihan Pascakonflik

PIRU, Pusartimur.com – Pemerintah Provinsi Maluku menegaskan komitmennya untuk terus mendorong pemulihan, rekonsiliasi dan perdamaian pascaperistiwa pertikaian yang terjadi antara masyarakat Desa Lisabata dan Desa Patahuwe, Kecamatan Taniwel, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB).

Komitmen tersebut disampaikan Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa melalui Asisten III Setda Provinsi Maluku, Dominggus N. Kaya, S.Sos., M.Si., saat menghadiri peletakan batu pertama pembangunan Gedung Pastori Jemaat GPM Patahuwe, Minggu (20/9/2026).

Dominggus Kaya hadir mewakili Gubernur Maluku dalam kegiatan yang dirangkaikan dengan syukuran memperingati 50 tahun pelayanan Klasis GPM Taniwel.

Gedung Pastori Jemaat GPM Patahuwe sebelumnya mengalami kebakaran dalam peristiwa pertikaian antardesa di Kecamatan Taniwel. Peletakan batu pertama pembangunan kembali gedung tersebut menjadi bagian dari upaya membuka lembaran baru bagi masyarakat dan jemaat yang terdampak.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Ketua Sinode GPM Pdt. Rico Rikumahu, M.Th., Ketua Umum AMGPM Melkianus Sairdekut, S.P., M.Si., Bupati SBB Ir. Asri Arman, M.T., Wakil Bupati SBB Selfinus Kainama, S.Pd., serta jajaran Majelis Pekerja Klasis GPM Taniwel.

Dalam sambutan tertulis Gubernur Maluku yang dibacakan Dominggus Kaya, disebutkan bahwa perjalanan 50 tahun pelayanan Klasis GPM Taniwel telah diwarnai perjalanan iman, doa, pengorbanan dan air mata.

Karena itu, usia setengah abad pelayanan Klasis GPM Taniwel disebut sebagai momentum yubelium untuk mensyukuri rahmat Tuhan sekaligus menjadi kesempatan melakukan pembaruan rohani dan memperkuat kehidupan bersama.

Baca Juga  DP3AMD Kota Ambon dan TP PKK Gelar FAKOTA Berbagi “Piring Emas”, Edukasi Gizi Seimbang untuk Anak

“Usia 50 tahun ini saya lihat sebagai tahun yubelium, tahun khusus yang bukan hanya bersyukur atas rahmat pengampunan, pembebasan dan pembaruan rohani,” demikian pesan Gubernur dalam sambutannya.

Menurut Gubernur, momentum yubelium tersebut menjadi semakin bermakna karena bersamaan dengan dimulainya pembangunan kembali Pastori Jemaat GPM Patahuwe dan rumah-rumah jemaat yang terdampak.

Ia menegaskan, batu pertama yang diletakkan bukan sekadar simbol dimulainya pembangunan sebuah gedung, tetapi juga menjadi batu harapan bagi masyarakat untuk bangkit dan memulihkan kehidupan setelah melewati masa-masa sulit.

“Batu pertama yang kita letakkan hari ini bukan semata-mata batu pertama sebuah bangunan, tetapi batu harapan. Bahwa setelah melewati masa-masa yang tidak mudah, kita memilih untuk bangkit, memulihkan yang terluka dan terus melangkah dalam kasih Tuhan,” tegasnya.

Gubernur mengakui bahwa masyarakat Lisabata dan Jemaat Patahuwe telah melalui situasi yang tidak mudah. Peristiwa tersebut meninggalkan luka dan kesedihan yang membutuhkan proses pemulihan bersama.

Namun, menurutnya, masyarakat tidak boleh selamanya terjebak dalam luka masa lalu.

“Kita tidak dipanggil untuk tinggal selamanya dalam luka. Kita dipanggil untuk mengalami pemulihan. Kita tidak dipaksa melupakan apa yang pernah terjadi, tetapi kita harus memiliki keberanian untuk berkata: masa lalu menjadi pelajaran dan bukan penghalang bagi masa depan,” ujarnya.

Gereja Diminta Jadi Ruang Pemulihan

Gubernur berharap momentum 50 tahun pelayanan Klasis GPM Taniwel dapat menjadi titik penguatan persaudaraan, rekonsiliasi dan perdamaian di tengah masyarakat.

Baca Juga  Paramotor Fasi Daerah Maluku Sukses Flypass di Langit Ambon

Menurutnya, Gereja memiliki tugas panggilan yang besar dalam menciptakan ruang pemulihan bagi masyarakat yang mengalami luka akibat konflik.

“Ketika masyarakat mulai panas, Gereja hadir menjadi penyejuk. Ketika ada jarak, Gereja berani membuka ruang perjumpaan. Dan ketika ada luka, Gereja harus membawa pesan pengampunan dan pemulihan,” katanya.

Pemerintah Provinsi Maluku, lanjut Gubernur, akan terus hadir bersama masyarakat dalam menjaga keamanan dan menciptakan suasana yang kondusif.

Koordinasi akan terus diperkuat bersama Pemerintah Kabupaten SBB, aparat keamanan, Gereja, tokoh adat, tokoh masyarakat serta seluruh elemen masyarakat.

Gubernur juga menegaskan bahwa perdamaian tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah maupun aparat keamanan.

“Dengan tulus saya sampaikan, perdamaian tidak mungkin hanya dibangun oleh pemerintah dan aparat keamanan. Perdamaian harus lahir dari dalam lubuk hati kita semua,” tegasnya.

Untuk itu, seluruh pihak diajak menurunkan ego, membuka ruang dialog dan menghilangkan kecurigaan demi terciptanya kehidupan masyarakat yang aman dan damai.

Momentum peletakan batu pertama Pastori Jemaat GPM Patahuwe pun diharapkan tidak hanya menjadi awal pembangunan secara fisik, tetapi juga menjadi awal pembangunan kembali kepercayaan, persaudaraan dan harapan di tengah masyarakat.

“Di saat kita meletakkan batu pertama Pastori Jemaat GPM Patahuwe, saya berharap dari batu itu kita juga meletakkan sesuatu dari dalam hati kita,” pungkasnya. (PT)

Share :

Baca Juga

Headline

Dari Pakaian, Buku, hingga 29.000 Pohon: PNM Perluas Makna Pemberdayaan di Masyarakat Akar Rumput

Headline

Rakor Pembina Samsat Tingkat Nasional 2025 Dorong Transformasi dan Sinergi Stakeholder untuk Pelayanan Publik yang Lebih Modern dan Adaptif

Headline

Jasa Raharja Catat Penurunan Angka Kecelakaan Lalu Lintas pada Periode Siaga Idul Fitri 2026

Headline

Jurnalis Senior Sebut Ada Yang Mencari Kesalahan Mantan Penjabat Gubernur Maluku

Headline

Awaluddin: Ekosistem Terintegrasi Kunci Jasa Raharja Hadirkan Pelayanan Maksimal kepada Masyarakat

Headline

KONDISI PASCA-ERUPSI AMAN, RUTE PENERBANGAN AMBON–JAKARTA–AMBON KEMBALI NORMAL

Headline

Update Ops H4 tenggelamnya Speed Boat berpenumpang 10 orang di sekitar perairan Pulau Dai Kabupaten Maluku Barat Daya.

Headline

Peningkatan Kapasitas Kepala Sekolah SMA, Tuarita: Bagian dari Peningkatan Kualitas dan Mutu Pendidikan di Maluku