SBB, PT- Program pendampingan dan penerapan teknologi pertanian yang dilakukan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Maluku terbukti mampu meningkatkan produktivitas petani padi di Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB).
Selain meningkatkan hasil panen, program tersebut juga memperkuat pemasaran beras dan meningkatkan kesejahteraan petani.
Ketua Kelompok Klaster Padi Gemba, Fathur Rahman, mengungkapkan bahwa sebelum mendapatkan pendampingan dari Bank Indonesia Maluku, produktivitas padi di wilayahnya hanya berkisar 2 hingga 3 ton per hektare.
Pernyataan tersebut disampaikan melalui tayangan yang diunggah di akun Instagram resmi Bank Indonesia Provinsi Maluku pada Rabu (24/6/2026).
“Dulu sebelum dikenalkan dengan teknologi pertanian, produksi kami hanya sekitar 2 hingga 3 ton per hektare. Setelah mendapatkan bantuan teknologi dan pendampingan, produksi mengalami peningkatan yang sangat signifikan,” ujar Fathur Rahman.
Petani yang telah menggeluti usaha tani selama kurang lebih 21 tahun itu mengatakan dirinya mulai bertani di Desa Waimital, kawasan Gemba, sejak tahun 2004 dan hingga kini masih menekuni profesi sebagai petani padi.
Menurutnya, salah satu tantangan terbesar yang dihadapi petani selama ini adalah pemasaran hasil panen. Saat musim panen tiba, petani kerap mengalami kesulitan menjual hasil produksi mereka.
Fathur mengaku mulai mengenal Bank Indonesia Perwakilan Maluku sekitar tahun 2010 ketika kelompok taninya menjadi kelompok binaan BI. Sejak saat itu, berbagai program pengembangan pertanian diberikan, mulai dari pelatihan budidaya hingga penerapan teknologi pertanian organik.
“Setelah mendapatkan pelatihan dari Bank Indonesia Maluku, pada musim panen terakhir produksi kami meningkat menjadi sekitar 7 hingga 8 ton per hektare,” jelasnya.
Selain peningkatan produktivitas, bantuan Rice Milling Unit (RMU) dari Bank Indonesia juga memberikan dampak besar terhadap kapasitas pengolahan hasil panen. Saat ini, kelompok tani mampu mengolah gabah menjadi sekitar 6 ton beras per hari.
Peningkatan kapasitas pengolahan tersebut turut berdampak pada penyerapan hasil panen petani. Sekitar 90 persen hasil panen petani di Kabupaten Seram Bagian Barat kini dapat diserap oleh kelompok tani untuk dipasarkan.
Kelompok tani juga telah menjalin kemitraan dengan Bulog sehingga hasil produksi beras dapat diserap dan dipasarkan secara lebih luas.
“Kondisi ekonomi petani menjadi jauh lebih baik karena hasil panen tidak lagi sulit untuk dijual,” kata Fathur.
Ia berharap para petani di Maluku terus meningkatkan produktivitas dan berkontribusi dalam menjaga ketahanan pangan, khususnya di Provinsi Maluku, melalui penerapan teknologi pertanian dan penguatan kerja sama antarpetani. (PT)









